Produk Bisnis

Produk Bisnis Sudah Tidak Relevan Lagi terhadap Perubahan Zaman

Adakah suatu produk pemenuhan kebutuhan manusia yang terus bertahan sepanjang zaman?  Mungkin jawabannya adalah relatif. Ada beberapa kategori jenis produk tertentu yang memiliki relevansi jangka panjang, tapi ada juga di antaranya yang begitu cepat digantikan perannya oleh produk lain. Menurut hieraki kebutuhan piramida Maslow, kebutuhan manusia secara umum meliputi lima tingkatan, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih atas kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Setiap produk yang dicipta oleh pelaku bisnis pada umumnya adalah untuk menjadi solusi atas berbagai jenis kebutuhan tersebut. Barangkali kita sudah beberapa kali mendengar para pakar pemasaran yang mengistilahkan produk bukan sekadar sebagai bahan untuk jualan, melainkan sebuah solusi atas segala problematika yang dihadapi manusia. Selama manusia memiliki kebutuhan dalam hidupnya itu berarti akan selalu ada kesempatan eksis bagi suatu produk. Hanya saja terkadang setiap orang senantiasa memilih produk dengan fungsionalitas yang paling lengkap serta paling nyaman untuk dipergunakan.

Tentu sebagian dari kita sudah tidak asing lagi dengan kamera foto. Pada awal kehadirannya teknologinya masih sangat sederhana dan agak “rumit” untuk dioperasikan. Seiring waktu ia menjadi lebih sederhana dan lebih mudah dipergunakan. Cukup tekan tombol maka sebuah tampilan peristiwa sudah bisa diabadikan. Dulu, melihat hasil foto butuh jeda waktu beberapa lama. Ada proses pasca pemotretan untuk menampilkan hasil jepretan dalam selembar kertas. Tapi kini semuanya sudah menjadi begitu berbeda. Saat itu mengambil gambar melalui jepretan kamera, seketika itu pula kita bisa melihat hasilnya.

Perkembangan teknologi kamera ini memang dirasa sangat memanjakan para penggunanya. Namun, di sisi lain hal itu juga sekaligus bisa menjadi kabar buruk bagi penyedia layanan foto yang masih terpaku dengan cara-cara lama. Sekarang, kita sepertinya mustahil untuk menemukan jasa cetak foto analog karena semuanya sudah serba digital. Bahkan sebuah korporasi raksasa yang sempat berjaya pada zamannya kini seperti sirna tanpa sisa.

Kodak sebagai perusahaan raksasa yang pernah  merengguk nikmat besar dari industri fotografi sebelum keberadaan teknologi digital sekarang justru menjadi nama yang asing di telinga. Produk roll film yang dulu sangat diandalkan saat ini sudah kehilangan relevansinya. Bukan hanya roll film yang mengalami kondisi tersebut, mesin ketik juga mengalami nasib serupa. Ada juga OHP proyektor yang semasa saya sekolah sangat diandalkan para guru untuk presentasi di depan kelas. Keberadaan teknologi komputer dan proyektor digital telah membuat barang-barang tersebut tidak relevan lagi sekarang. Lantas bagaimana jika kita termasuk di antara para pelaku bisnis dengan produk-produk yang mengalami nasib seperti itu? Apa yang harus kita perbuat agar dapat bertahan atau bahkan membalikkan keadaan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya?

Urgensi Visioner

Terkadang kita tidak bisa terpaku untuk “setia” menghasilkan suatu jenis produk tertentu. Ada saatnya bagi kita untuk melakukan improviasi, mengembangkan produk, atau bahkan beralih “menjamah” produk lain sebagai basis operasi. Bagaimanapun juga, bisnis yang mampu terus eksis adalah bisnis dengan produk yang diminati atau dibutuhkan konsumen. Tanpa adanya minat akan keberadaan suatu produk maka bisa dibilang sebuah bisnis akan kehilangan masa depan. Sah-sah saja misalnya kita yang punya usaha tambal ban biasa terus berpegang teguh hanya mengerjakan tambal ban biasa dan mengabaikan pengerjaan ban-ban tubles. Padahal saat ini sebagian besar roda kendaraan sepeda motor sudah beralih menggunakan tubles.

Harus ada upaya ekspansi atau perluasan jangkauan dari bidang awal yang menjadi basis keahlian kita. Karena bagaimanapun juga lambat laun lingkungan dan dunia kita senantiasa berubah. Perubahan itu terkadang terjadi begitu samar bahkan seringkali tanpa kita sadari. Jikalau kita memandang segala dinamika itu layaknya katak yang berada di dalam bejana air yang dipanaskan, maka pasti kita akan menjadi seperti perusahaan Kodak yang awalnya sangat digdaya tapi kemudian menjadi bukan siapa-siapa.

Menjadi visioner adalah sebuah keharusan bagi para pelaku bisnis. Bukan sebatas visioner untuk membuat produk kita saat ini menjadi versi yang lebih baik, tetapi juga menakar setiap inci kemungkinan yang muncul dimasa depan. Menjajaki setiap potensi yang mungkin terjadi. Indikasinya sederhana. Pada saat eksistensi produk dari bisnis kita mulai terusik oleh keberadaan sesuatu yang lain maka itu artinya ada peluang bahwa produk kita akan segera tersingkir suatu hari nanti.

Cara yang bijak dalam menyiasati hal ini bukanlah dengan membendung “ancaman” yang akan muncul itu, melainkan harus dengan mempersiapkan diri menyambut ancaman tersebut dengan sebaik mungkin. Sehingga apa yang awalnya dianggap sebagai ancaman di kemudian hari akan terlihat biasa. Kodak mengingkari kemunculan foto digital seraya menganggap bahwa produk andalan roll film akan terus jumawa. Padahal di sisi lain mereka tahu kalau pangsa pasar mereka semakin berkurang.

Demikian halnya dengan angkutan umum yang sempat kalang kabut pada masa awal booming transportasi daring. Sementara sebagian memilih melakukan perlawanan dengan meminta dilarangnya transportasi daring, yang diuntungkan justru mereka yang mampu berdamai dengan apa yang mereka anggap sebagai ancaman tersebut. Seperti halnya taksi Blue Bird yang akhirnya justru menjadi bagian dari ekosistem Gojek, alih-alih head to head melawannya. Sebagai pelaku bisnis, bagaimanapun juga kita harus siap sedia jika suatu saat nanti produk kita ternyata menemui titik irelevansinya.

Jikalau tanda-tandanya sudah mulai terlihat, maka seketika itu pula kita harus bergegas untuk mengambil tindakan agar tidak terlambat menghadapi perubahan mungkin saja terjadi dalam sekejap mata.